Home | Opini | Rais ‘Aam: Hubungan Keislaman, Kebangsaan, dan Kemanusiaan Harus Selaras

Rais ‘Aam: Hubungan Keislaman, Kebangsaan, dan Kemanusiaan Harus Selaras

Jakarta, NU Online
Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa hubungan antara keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan itu tidak boleh terjadi benturan.

Menurut Kiai Ma’ruf, NU yang merupakan jam’iyyah dinniyyah islamiyyah memegang teguh ajaran-ajaran Islam yang menyelaraskan ketiga hal itu.

“Tetapi kita di dalam masalah kebangsaan juga sudah menyelesaikan persoalan. Sudah selesai, karena itu tidak boleh terjadi benturan antara Islam dan kebangsaan,” katanya pada Taushiyah Kebangsaan yang diselenggarakan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) dengan tema “Fikih Tawassuth dan Tasamuh dalam Membangun Perdamaian dan Indonesia Bebas Korupsi” di lantai 8, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (9/10).

Menurut Kiai Ma’ruf, apabila terjadi benturan antara keislaman dan kebangsaan, berarti terjadi salah persepsi, baik dalam memahami keislaman atau salah persepsi tentang penafsiran kebangsaan sehingga terjadi benturan dengan Islam.

“Nah, persepsi yang benar harusnya tidak terjadi mispersepsi ini,” kata anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini.

Begitu juga tentang kemanusiaan dan keislaman, keduanya tidak boleh terjadi benturan karena di dalam Al-Qur’an telah menjelaskan maksud perbedaan, yakni supaya saling mengenal.

“Jadi, artinya perbedaan di dunia ini berbangsa adalah menurut Al-Qur’an harus ta’aruf, tidak takhosum tidak saling bermusuhan, tidak taghodub (saling marah), tapi ta’aruf. Ketika terjadi taghodub, berarti antara Islam dan kemanusiaan terjadi mispersepsi, ada kesalapahaman yang harus diluruskan,” terangnya.

Menurut kiai yang juga ketua pusat MUI ini, persepsi-persepsi itu harus diluruskan melalui pencerahan, dialog, ataupun tulisan, sehingga Islam, kebangsaan dan kemanusiaan harus seiring sejalan dan tidak terjadi benturan.

Acara yang berbarengan dengan pembukaan Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) Daurah II ini dihadiri kader syuriyah NU dari 7 provinsi dan mahasiswi STAINU Jakarta serta akan dilaksanakan selama 5 hari. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Sumber : NU Online