Home | Islam Kita | Khutbah | Puasa Muraqabin

Puasa Muraqabin

Oleh : DR. KH. ABUN BUNYAMIN. MA*)

Menurut Sayidina Ali Karramallahu Wajhahu : “Puasa Hati lebih berat daripada puasa lisan, puasa lisan lebih berat daripada puasa perut”. Puasa bukan hanya meninggalkan makan dan minum tetapi puasa juga mengharuskan kita untuk menjaga lisan dan hati.

Puasa hati artinya menjaga hati dari ajakan hawa nafsu terutama dari kecenderungan terhadap harta, tahta dan wanita. Harta, tahta dan wanita adalah kepuasan yang sementara dan tidak lama, karena kepuasaan yang abadi hanyalah datang bersama keridhaan Allah. Bukan kepuasan yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak bermoral, tidak berakhlakul karimah dan tidak memakai pilar-pilar agama.

Dunia sangat relatif bila dihubungkan dengan kepuasan, apalagi bila disertai dengan perasaan rakus atau tamak. Dunia itu bagaikan air laut semakin diminum semakin haus. Hal yang paling celaka adalah apabila harta jadi penghambat ibadah. Inilah yang dimaksud “Wailun Libnid Dunya” artinya celakalah bagi si penghamba dunia.

Bagi penghamba dunia maka bisnis, pekerjaan dan jabatan membuat sholat terlalaikan dan Allah SWT terlupakan dari kesibukannya. Padahal jabatan misalnya, hanyalah sebentar. Setelah itu pensiun, dipensiunkan atau bahkan diperkarakan.

Dalam puasa hati, rasa hadir lebih banyak daripada lapar dan haus karena dengan puasa hati  lebih banyak mengingat Allah daripada mengingat isi  perut seperti takjil dan kolek atau memikirkan penampilan seperti baju dan perhiasan.

Allah tidak butuh puasa seorang hamba yang hanya menahan lapar dan haus tapi tidak mampu menjaga lidah dan anggota badannya dari perbuatan maksiat.

Ada tiga tingkatan puasa yaitu; pertama puasa awam, artinya puasa yang hanya menahan lapar dan haus saja. Kedua adalah puasa khowash yaitu puasa yang sanggup menjaga anggota tubuhnya dari maksiat. Ketiga adalah puasa khawasil khawash yaitu puasa hati. Inilah puasa yang disertai dengan muraqabah.

Muraqabah artinya perasaan hati yang selalu merasa diawasi, diintai dan ditatap Allah swt. Perasaan ini melahirkan sikap khauf dan roja, yaitu merasa takut dan berharap kepada Allah swt. Dalam berpuasa, pelaku muraqabah sangat makrifat terhadap sifat sama’ dan bashar Allah SWT.

Puasa khawasil khawash disebut juga shaumush shabirin yaitu puasanya orang sabar dalam menghadapi tugas ibadah, menghindari maksiat dan menolak ajakan hawa nafsu.

Puasa dalam Islam tidak boleh disamakan dengan  tapa atau semedi (kontemplasi) sebab puasa dalam Islam harus disertai niat dan ketentuan syariat yang akan membuahkan ketakwaan. Allah swt berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Puasa orang-orang yang memiliki muraqabah (muraqabin) akan tercermin dalam dzikir sehari-harinya, yaitu ucapan yang tak pernah berhenti setiap saat seperti bacaan

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah. Aku memohon ampun kepada Allah atas segala dosa. Aku meminta Surga dan berlindung kepada-Mu dari neraka.

*) Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Rois Syuriah PCNU purwakarta Wakil Rois Syuriah PWNU JABAR