Home | Bahtsul Masail | Mengqodlo Sholat

Mengqodlo Sholat

Tiga puluh tahun ke belakang, Kang Bahar adalah mantan preman kelas satu di zamannya. Hampir semua jenis kejahatan pernah dilakukannya, sehingga berurusan dengan pihak berwajib hamper setiap waktu dan penjara pun seolah rumah keduanya. Seiring waktu dan usia, pemikiran dan pola hidup kang Bahar pun mengalami perubahan, bahkan bisa dibilang berubah total. Sekarang dia telah menjadi ahli masjid, jama’ah pengajian, getol sedekah, menyantuni anak yatim dan faqir miskin. Namun ada satu hal yang menjadi dilema kang Bahar, yaitu masalah ibadah yang pernah ditinggalkannya, terutama salat. Maklum, selama bergelut dengan dunia hitam dulu, secara sengaja dan sadar kang Bahar sekali pun tak pernah melakukan salat fardlu.

Yang menjadi pertanyaan :

  1. Apakah dia berkewajiban mengqadla salatnya yang ditinggal dalam kurun 30 tahun itu?
  2. Bila wajib, bagaimana cara pelaksanaannya, sementara dia tidak mengetahui bahwa salat fardlu yang ditinggal wajib diqadla?
  3. Bolehkan dia mengerjakan salat sunat, sementara dia punya hutang salat fardlu?
  4. Bila hutang salat itu terbawa mati, adakah solusi lain sebagai penggantinya?

Wajib, berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim ra,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ» قَالَ قَتَادَةُ: وَ {أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي} [طه: 14]

Dari Anas bin Malik ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “barang siapa lupa dari mengerjakan salat, maka dia harus mengerjakan salat di saat dia ingat. Tidak ada kifarat (pengganti) dari salat yang tertinggal kecuali mengerjakan salat itu tadi di luar waktunya (qadla).

وَإِنَّمَا قَيَّدَ فِي الْحَدِيثِ بِالنِّسْيَانِ لِخُرُوجِهِ عَلَى سَبَبٍ لِأَنَّهُ إِذَا وَجَبَ الْقَضَاءُ عَلَى الْمَعْذُورِ فَغَيْرُهُ أَوْلَى بِالْوُجُوبِ وَهُوَ مِنْ بَابِ التَّنْبِيهِ بِالْأَدْنَى عَلَى الْأَعْلَى

Komentar Imam Nawawi, bahwa alasan wajib qadla salat sebagaimana redaksi hadis di atas adalah dengan menggunakan kalimat nisyan (lupa), dimana lupa merupakan hal di luar kesadaran manusia, dan kesalahan karena lupa masuk kategori ma’dzur (diampuni). Bila karena lupa saja wajib qadla, maka apalagi kalau meninggalkan salat secara sengaja. Menurut Imam Nawawi, permasalahan seperti ini masuk ke bahasan al-tanbih bil-adna ‘ala al-a’la (Imam Nawawi,Al-Minhaj syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj,V:183)

  1. Salat termasuk salah satu dari al-umur al-dlaruriyah, yakni hal-hal yang bersifat keharusan dan tidak bisa dihindari. Setatus hukumnya yang qath’I sebagaimana dalam al-Quran, al-Hadis dan Ijma’, memastikan label kufur bagi mereka yang menolak kewajibannya.

قال في التحفة: يجب تعليمه ما يضطر إلى معرفته من الأمور الضرورية التي يكفر جاحدها ويشترك فيها العام والخاص

(I’anah al-Thalibin, I:35)

Karena status wajib itu dan karena salat merupakan hak Allah swt, maka meninggalkan salat berarti berhutang kepada Allah swt. Tentang hutang kepada Allah, Rasul saw dalam penggalan hadisnya yang diriwayatkan Imam Muslim, mengatakan, فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ بالقضاء “hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar” (Imam Nawawi, Al-Minhaj syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, VIII:24)

  1. Tidak mengetahui bahwa salat yang ditinggal wajib diqadla, TIDAK menjadi alasan untuk hilangnya kewajiban mengqadla. Betul bahwa lupa dan jahlun (tidak tahu) merupakan hal di luar kesadaran dan diampuni, tetapi hal itu berlaku hanya dalam hal melanggar larangan Allah, TIDAK berlaku dalam hal meninggalkan kewajiban. Dan juga, jahlun masuk kategori diampuni bila si pelaku (kang bahar) dalam kondisi baru masuk islam, atau tinggal di tempat yang jauh dari sumber agama atau ulama.

الْجَهْلُ وَالنِّسْيَانُ يُعْذَرُ بِهِمَا فِي حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى الْمَنْهِيَّاتِ دُونَ الْمَأْمُورَاتِ

(Al-Zarkasyi, al-Mantsur fil- Qawaid al-Fiqhiyyah, II:19)

Dengan demikian, alasan “tidak tahu” seperti di atas termasuk ke jahlun ghair ma’dzur alias tidak diampuni dan “tidak” menghilangkan kewajiban mengqadla.

Tata cara mengqadla:

Mengqadla yang ghair ma’dzur wajib dilaksanakan dengan segera, dan disunatkan tartib (tersusun) sesuai dengan urutan hari dan waktu salat yang ditinggalkan. Misalkan setelah salat Jum’at teringat bahwa hari Senin tidak salat subuh dan zhuhur, hari Rabu tidak salat asar dan maghrib, hari Kamis tidak salat ‘isya, maka saat itu juga dia salat subuh untuk hari Senin lalu zhuhur, dilanjutkan dengan salat asar untuk hari Rabu dan seterusnya.

Adapun untuk mengqadla salat dalam jumlah banyak, 30 tahun misalnya, maka teknisnya sebagaimana di atas. Dan apabila ada prediksi bahwa waktu untuk mengqadla tidak akan cukup karena saking banyaknya, maka qadla tetap diwajibkan dan harus ber’azam (berniat) akan mengqadla semuanya sambil memulai menyicil satu persatu sebagai langkah untuk memenuhi kewajiban dan membebaskan tanggung jawab (li baraati al-dzimmah). Juga diwajibkan menggunakan seluruh waktunya untuk mengqadla salat, kecuali untuk hal-hal yang dianggap perlu, seperti tidur, mencari nafkah dan hal-hal yang sifatnya mendesak.

(ويبادر بفائت) من فرض صَلَاة أَو غَيرهَا مَتى تذكره وجوبا إِن فَاتَ بِغَيْر عذر تعجيلا لبراءة الذِّمَّة

(وَيسن ترتيبه) أَي الْفَائِت فِي الْقَضَاء على تَرْتِيب أَوْقَات الْفَوَائِت وأيامها خُرُوجًا من خلاف من أوجبه فَيبْدَأ بالفائت أَولا وَلَو بِعُذْر وَيُؤَخر عَنهُ الْفَائِت ثَانِيًا وَلَو بِلَا عذر فَلَو فَاتَهُ ظهر هَذَا الْيَوْم مثلا بِعُذْر وعصره بِلَا عذر قدم فِي الْقَضَاء الظّهْر مُرَاعَاة للتَّرْتِيب.وَفهم من هَذَا الْمِثَال أَنه لَو فَاتَهُ عصر الأمس وَظهر الْيَوْم قدم فِي الْقَضَاء عصر الأمس على ظهر الْيَوْم مُرَاعَاة للتَّرْتِيب

(Nihayah al-Zain, I:10)

(قوله: ما عدا ما يحتاج لصرفه فيما لا بد له منه) كنحو نوم أو مؤنة من تلزمه مؤنته أو فعل واجب آخر مضيق يخشى فوته.

(I’anah al-Thalibin, I:32,)

وَمِنْهَا قَضَاءُ نَحْوِ صَلَاةٍ وَإِنْ كَثُرَتْ وَيَجِبُ عَلَيْهِ صَرْفُ سَائِرِ زَمَنِهِ لِذَلِكَ مَا عَدَا الْوَقْتِ الَّذِي يَحْتَاجُهُ لِصَرْفِ مَا عَلَيْهِ مِنْ مُؤْنَةِ نَفْسِهِ وَعِيَالِهِ…..أَمَّا لَوْ كَانَتْ عَلَيْهِ فَوَائِتُ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَكَانَ قَضَاؤُهَا يَسْتَغْرِقُ زَمَنًا طَوِيلًا فَيَكْفِي فِي صِحَّةِ تَوْبَتِهِ عَزْمُهُ عَلَى قَضَائِهَا مَعَ الشُّرُوعِ فِيهِ

(Hasyiyah al-Jamal,II:133)

  1. Bagi yang memiliki hutang salat fardlu dengan kriteria ghair ma’dzur, madzhab Syafi’I mengharamkan mengerjakan salat sunat apapun jenis salat sunatnya sampai segala tanggungannya terpenuhi. Walau tiga madzhab lainnya membolehkan salat sunat, itupun sebatas salat sunat rawatib (sebelum dan sesudah salat fardlu) dan salat sunat muqoyyad (witir, dluha, tahiyyatul masjid dan tashbih). Adapun mengerjakan salat tarawih, keempat madzhab sepakat menghukumi tidak boleh. Bahkan madzhab Maliki menghukumi haram berdosa karena dianggap mentelantarkan qadla salat yang notabene hukumnya wajib.

الحنفية قالوا: الاشتغال بصلاة النوافل لا ينافي القضاء فوراً وإنما الأولى أن يشتغل بقضاء الفوائت ويترك النوافل إلا السنن الرواتب وصلاة الضحى وصلاة التسبيح وتحية المسجد والأربع قبل الظهر والست بعد المغرب.

المالكية قالوا: يحرم على من عليه فوائت أن يصلي شيئاً من النوافل إلا فجر يومه والشفع والوتر إلا السنة كصلاة العيد فإذا صلى نافلة غير هذه كالتراويح كان مأجوراً من جهة كون الصلاة في نفسها طاعة وآثماً من جهة تأخير القضاء ورخصوا في يسير النوافل كتحية المسجد والسنن الرواتب.

الشافعية قالوا: يحرم على من عليه فوائت يجب عليه قضاؤها فوراً وقد تقدم ما يجب فيه الفور – أن يشتغل بصلاة التطوع مطلقاً سواء كانت راتبة أو غيرها حتى تبرأ ذمته من الفوائت.

الحنابلة قالوا: يحرم على من عليه فوائت أن يصلي النفل المطلق فلو صلاه لا ينعقد وأما النفل المقيد كالسنن الرواتب والوتر فيجوز له أن يصليه في هذه الحالة ولكن الأولى له تركه إن كانت الفوائت كبيرة ويستثنى من ذلك سنة الفجر فإنه يطلب قضاؤها ولو كثرت الفوائت لتأكدها وحث الشارع عليها

(Al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah,I:446)

بَلْ يَحْرُمُ فِعْلُ التَّطَوُّعِ مَا دَامَتْ فِي ذِمَّتِهِ فَتَجِبُ الْمُبَادَرَةُ وَلَوْ عَلَى حَاضِرَةٍ إنْ اتَّسَعَ وَقْتُهَا

(Al-Bujairomi ala al-Khotib,I:405)

  1. Secara nash tidak ada dalil shorih dan kuat terkait anjuran membayar fidyah sebagai pengganti salat yang tertinggal. Berbeda dengan masalah puasa dan haji, fidyah untuk keduanya disyari’atkan karena berdasar nash dalil. Namun walau demikian, para ulama mujtahid banyak pula yang membolehkan pembayaran fidyah atas hutang salat yang ditinggal, Imam Subki dan Syeikh Al-‘Abbadi diantaranya. Hal itu dilakukan dengan landasan penganalogian salat terhadap puasa yang keduanya sama-sama ibadah. Walaupun landasan ini nilainya lemah, namun untuk pengamalan diri sendiri, bukan untuk difatwakan, maka hukumnya diperbolehkan.

Penghitungan fidyah untuk salat yaitu 1 (satu) mud (0,8 liter) untuk setiap satu kali salat fardlu.

(فائدة) من مات وعليه صلاة فلا قضاء ولا فدية,وفي قول – كجمع مجتهدين – أنها تقضى عنه لخبر البخاري وغيره ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا وفعل به السبكي عن بعض أقاربه. ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي إن خلف تركة أن يصلى عنه كالصوم.وفي وجه – عليه كثيرون من أصحابنا – أنه يطعم عن كل صلاة مدا.

(I’anah al-Thalibin,I:33)

وَفِي الصَّلَاةِ قَوْلٌ أَيْضًا أَنَّهَا تُفْعَلُ عَنْهُ سَوَاءٌ أَوْصَى بِهَا أَوْ لَا حَكَاهُ الْعَبَّادِيُّ عَنْ الشَّافِعِيِّ

(Hasyiyah al-Jamal,II:338)

وَهُنَاكَ قَوْلٌ بِجَوَازِ فِعْلِ الصَّلَاةِ عَنْهُ وَقَدْ صَلَّى السُّبْكِيُّ عَنْ قَرِيبٍ لَهُ مَاتَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ تَقْلِيدُ الْقَوْلِ الضَّعِيفِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ كَمَا نَصَّ عَلَيْهِ ع ش وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُفْتِي بِهِ كَمَا قَرَّرَهُ شَيْخُنَا ح ف

وَعِبَارَةُ ق ل عَلَى الْجَلَالِ قَوْلُهُ: وَفِي الِاعْتِكَافِ قَوْلٌ وَفِي الصَّلَاةِ قَوْلٌ أَيْضًا وَفِيهَا وَجْهٌ أَنَّهُ يُطْعِمُ عَنْهُ لِكُلِّ صَلَاةٍ مُدًّا وَعَلَيْهِ كَثِيرُونَ حَجّ قَالَ بَعْضُ مَشَايِخِنَا: وَهَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّخْصِ لِنَفْسِهِ فَيَجُوزُ تَقْلِيدُهُ لِأَنَّهُ مِنْ مُقَابِلِ الْأَصَحِّ نَعَمْ يُصَلِّي أَجِيرُ الْحَجِّ رَكْعَتَيْ الطَّوَافِ

(Al-Bujairomi ala al-Manhaj,II:83)