Home | Iptek | Memperkenalkan (Kembali) Open Source Software Kepada Warga NU

Memperkenalkan (Kembali) Open Source Software Kepada Warga NU

Open Source dengan Operating System Linux sebagai produk utamanya sudah dikenal lama di Indonesia. Akan tetapi belakangan gaungnya terus menipis. Perlu penyegaran dan inovasi misalnya, membuat distro Linux ala NU.

Apa itu Open Source ?  Gampangnya dijawab, “Linux !” Seperti itu saja. Kemudian lanjutkan googling dengan kata kunci “distro linux 2017”, kita akan menemukan nama-nama seperti Debian, Ubuntu, CentOS, Fedora, Mint,  Elementary OS dan banyak lagi. Klik tab “image”, kita akan menemukan gambar-gambar screenshot mirip “Windows” di komputer atau notebook tapi bukan merk Microsoft, sebagian gambar malah mirip yang kita temukan di notebook berlogo buah apel alias Mac. Jika kurang puas, kunjungi halaman web distrowatch.

Linux yang bermacam-macam itu (disebut distro) merupakan salah satu hasil akhir atau produk Open Source di bidang Operating System (OS) yang langsung bersaing menghadapi Microsoft Windows juga MacOS. Atau, sempatkan lirik smartphone yang warga gunakan saat ini, Ya, Android. Itu pun bagian dari produk Open Source. Ada banyak lagi produk Open Source yang digunakan di ladang-ladang server yang menyediakan layanan web seperti web server Apache dan Nginx, database server seperti MySql atau Mariadb, pemograman web seperti PHP, Java, Java Script, dan seterusnya.

Perkiraan saya, nyaris dalam setiap kegiatan yang melibatkan penggunaan komputer dan smartphone Android selalu akan ditemukan produk Open Source. Bisa dibilang produk Open Source sudah “menguasai” bumi ini.

Apalagi yang bisa diidentikkan dengan kata “Open Source” ? Gratis ! Open Source identik dengan software gratis, tidak perlu pusing-pusing berpolemik dengan masalah hak cipta dan lisensi sebuah software.

Lalu bagaimana barang gratisan ini menjadi begitu populer, diandalkan dan dipercaya penggunanya ? Setidaknya ada beberapa manfaat yang membuat software Open Source bisa seperti itu :

  1. Bebas biaya tambahan. Open source membebaskan kita dari biaya lisensi karena ia bersifat GNU/GPL (General Public License) yang justru membolehkan kita untuk menggunakan, mempelajari dan memodifikasi serta menyebarluaskan untuk umum.
    Software Open Source memiliki total biaya kepemilikan atau TCO (Total Cost of Ownership) lebih rendah dari produk berbayar. Total biaya kepemilikan itu mencakup biaya pengadaan (termasuk jika ada biaya lisensi), biaya pemasangan, biaya perawatan atau maintenance (termasuk biaya update atau upgrade), dan lain-lain.
  2. Apalagi untuk sebuah perusahaan besar yang juga menggunakan resource besar. Penggunaan software yang terlalu banyak pasti juga akan menambah biaya / cost yang besar hanya untuk membeli software. Padahal dengan menggunakan open source biaya itu bisa ditekan seminimal mungkin (bahkan nol ?).
  3. Tidak dipusingkan dengan masalah lisensi dan hak cipta yang harus dibayar.
  4. Transfer knowledge. Open source yang bersifat terbuka dan dapat kita pelajari source codenya bisa kita jadikan referensi, khususnya bagi seseorang yang bergelut dengan dunia IT. Tidak mustahil jika ternyata muncul software yang lebih handal daripada software-software berlisensi.

Sedangkan secara teknis, ada beberapa keunggulan produk Open Source, antara lain :

  1. Ketersediaan source code software dan hak untuk memodifikasi, memperbaiki dan mendistribusikan ulang software hasil modifikasi jika dikehendaki
  2. Kode program tidak “disandera” vendor.
  3. Open source menggunakan format data terbuka, sehingga data menjadi transparan dan bisa dengan bebas diproses di sistem komputer yang berbeda-beda, sambil tetap menjaga keamanannya. Dengan demikian, konsumen tidak lagi terikat pada kemauan vendor untuk dapat menggunakan data-datanya.
  4. Banyaknya tenaga (SDM) untuk mengerjakan proyek. Proyek open source biasanya menarik banyak developer, misalnya: pengembangan web server Apache menarik ribuan orang untuk ikut mengembangkan dan memantau.
  5. Kesalahan (bugs, error) lebih cepat ditemukan dan diperbaiki. Hal ini dikarenakan jumlah developer-nya sangat banyak dan tidak dibatasi. Visual inspection (eye-balling) atau memelototi baris-baris kode merupakan salah satu metodologi pencarian bugs yang paling efektif. Selain itu, source code tersedia membuat setiap orang dapat mengusulkan perbaikan tanpa harus menunggu dari vendor.
  6. Kualitas produk lebih terjamin. Hal ini dikarenakan evaluasi dapat dilakukan oleh banyak orang, sehingga kualitas produk dapat lebih baik. Namun, hal ini hanya berlaku untuk produk open source yang ramai dikembangkan orang. Tidak selamanya open source dikembangkan oleh banyak orang, karena bisa juga dilakukan oleh perorangan.
  7. Berpotensi besar untuk lebih aman (secure). Sifatnya yang terbuka membuat produk open source dapat dievaluasi oleh siapa pun. Public scrutinity merupakan salah satu komponen penting dalam bidang keamanan. Secara umum, open source memiliki potensi untuk lebih aman meskipun dia tidak terkendali secara otomatis. Namun, hal ini dapat tercapai, jika security by obscurity bukan tujuan utamanya. Gampangnya, berapa banyak virus yang mampu menghantam Linux dibanding OS lain seperti Windows ?
  8. Hemat biaya. Komunitas developer umumnya mengembangkan sofware Open Source secara sukarela. Dengan demikian, biaya dapat dihemat dan digunakan untuk pengeluaran yang tidak dapat ditunda, misal membeli server untuk hosting web.
  9. Tidak mengulangi development. Pengulangan (re-inventing the wheel) merupakan pemborosan. Adanya source code yang terbuka membuka jalan bagi seseorang programmer untuk melihat solusi-solusi yang pernah dikerjakan oleh orang lain. Meskipun pada kenyataannya tetap banyak pengulangan.
    11. User dapat membuat salinan tak terbatas, menjual atau memberikan bebas software Open Source, kalaupun kita membeli paling cukup ukuran wajar ganti biaya “produksi” seperti ganti pembelian CD/DVD kosong, ongkos kirim, listrik dan uang ngopi.

Bagaimana bisa ?

Sumber terbuka (bahasa Inggris: open source) ini adalah sistem pengembangan yang tidak dikelola individu atau lembaga terpusat, tetapi dikembangkan oleh individu yang bekerja sama dengan memanfaatkan kode sumber (source-code) yang tersebar dan tersedia bebas. Mereka mengandalkan komunikasi via internet (Wikipedia).

Pola Open Source lahir karena kebebasan berkarya, hobi dan kesukarelaan. Dengan pola open source ini, para pengguna atau komunitas yang lain mendapat kebebasan untuk belajar, mengutak-ngatik, mengubah, menambah bagian-bagian tertentu, memperbaiki ataupun bahkan menyalahkan kode sumber (source code) dari sebuah software perangkat lunak dan kemudian menyebarkan ulang perangkat lunak tersebut.

Contoh software Operating System (OS) setara Microsoft Windows, ketika sebagian orang tidak begitu suka dengan gaya Linux Redhat, mereka bisa memodifikasi Redhat dan menurunkan varian Redhat yang bernama Linux Mandrake. Ketika Mandrake tidak lagi diteruskan pengembangannya, komunitas lain meneruskannya dan menurunkan Linux Mageia. Contoh lain dibidang software biasa, ketika sebagian orang menganggap web server Apache semakin berat, mereka memodifikasi kodenya dan menghasilkan produk baru, Nginx yang lebih ringan. Contoh pengembangan lintas perangkat (device), ketika Linux terlalu besar untuk diinstal ke dalam smartphone, dikembangkanlah Android. Dan seterusnya. Semuanya ada dalam pola keterbukaan informasi dan kode sumber (source code). Indonesia sendiri sudah banyak mengembangkan varian-varian operating system Linux seperti BlankOn, TeaLinux dan sebelumnya ada IGOS Nusantara dan banyak lagi.

Linux nya NU

Ide untuk mengagas OS Linux yang bernuansa Islam sebetulnya buka ide baru, sebelumnya sudah ada beberapa distro Linux yang di desain untuk umat Islam, sayang pengembangannya terhenti dan selanjutnya nyaris tidak terdengar lagi kabarnya. Meskipun bukan suatu keharusan untuk mengembangkan OS Linux khusus umat Islam karena kita bisa saja menggunakan distro Linux apa saja kemudiaan menginstall aplikasi yang berkaitan dengan lingkungan beragama Islam, isi komputer / notebook akan terbentuk secara “alami”sesuai dengan minat dan kecenderungan kita.

Namun membuat sebuah distro Linux bernuansa Islam, khususon bernuansa NU tentunya akan memudahkan dan mempercepat penyebarannya di warga NU, mulai pengguna komputer rumahan, sekolah, sampai pesantren. Isinya selain aplikasi Linux bernuansa Islam, juga bisa ditambah dengan konten-konten khas NU mulai ebook ke-NU-an sampai Bahtsul Masail mengingat ebook ini menggunakan format khususnya PDF, termasuk format yang cair bisa dibuka dimana saja baik di Windows maupun Linux. Jadi saat menginstall Linux NU ini, kita bisa sekaligus mendapatkan perpustakaan NU di PC / Notebook kita.

Berminat ? Perlombaan siapa yang paling duluan membuat distro Linux NU, dimulai !