Home | Islam Kita | Islam Nusantara | Kembali ke Perantauan, Masyarakat Indonesia Didorong Jaga Tradisi

Kembali ke Perantauan, Masyarakat Indonesia Didorong Jaga Tradisi

Jakarta, NU Online
Saat ini adalah momen di mana masyarakat Indonesia kembali ke tanah perantauan setelah mudik lebaran. Menjaga tradisi leluhur dan kearifan lokal menjadi tugas penting masyarakat meskipun berada di kota atau tanah perantauan. Hal ini berangkat dari makin banyaknya tradisi yang tergerus zaman.

Budayawan Al-Zastrouw Ngatawi menerangkan bahwa saat ini tak sedikit tradisi leluhur yang berkembang di masyarakat hilang tergerus zaman. “Saat ini banyak tradisi yang hilang tergerus zaman,” ujarnya kepada NU Online, Sabtu (1/7).

Doktor lulusan Universitas Indoensia (UI) ini mengisahkan, dulu ada tradisi megengan yaitu saling mengantar makanan antar tetangga jelang lebaran. Ada juga tradisi dolanan yaitu berkumpul bersama teman sebaya saat terang bulan untuk bermain jamuran, gobag sodor, dan lain sebagainya.

“Tradisi itu masih ada tetapi sudah berkurang, bahkan sudah ada yang hilang. Kondisi hilangnya tradisi inilah yang saya sebut sebagai defisit tradisi,” kata Ketua Lesbumi PBNU periode 2010-2015 ini.

Paling tidak, jelasnya, ada dua hal yang menyebabkan terjadinya defisit tradisi ini. Pertama, desakan arus modernitas yang rasional-material. Pada sisi ini tradisi dianggap sebagai sesuatu yang tidak praktis, ribet, dan tahayul.

Kedua, desakan arus formalisme dan puritanisne agama. Pada sisi ini tradisi dianggap sebagai sesuatu yang mengotori agama, merusak kemurnian ajaran sehingga harus dibersihkan dan dihancurkan.

“Dalam kondisi defisit tradisi seperti ini dibutuhkan kreativitas untuk melakukan revitalisasi tradisi. Proses ini merupakan bagian dari sunnatullah mengenai perubahan,” terang Dosen Pascasarjana UNU Indonesia (Unusia) Jakarta itu.

Artinya, imbuh dia, manusia tidak bisa menahan perubahan dengan berusaha menjaga otentisitas tradisi hingga terjebak pada sikap puritanisme dan fundamentalisme tradisi. Seperti halnya sikap kaum fundamentalis dan puritanis agama.

“Ini sikap yang sia-sia karena sudah pasti akan dilindas oleh hukum perubahan yang menjadi sunnatullah,” tegas Pimpinan Grup Musik Religi Ki Ageng Ganjur ini. (Fathoni)

sumber : NU Online