Home | Pustaka | Buku | Islam Kaffah, Islam yang Seperti Apa?

Islam Kaffah, Islam yang Seperti Apa?

Jakarta, NU Online
Buku Islam Indonesia Islam Paripurna merupakan tanggapan terhadap gugatan terhadap kebenaran dan kelengkapan pengamalan Islam di Indonesia. Gugatan itu muncul sejak medio tahun delapan puluhan.

Islamnya orang Indonesia dianggap tidak sempurna lantaran mengamalkan bid’ah, mengidap sekularisme, dan tidak mengamalkan syariat Islam.

Demikian disampaikan Imdadun Rahmat saat memberikan sambutan dalam acara Peluncuran bukunya yang berjudul Islam Indonesia Islam Paripurna di Jakarta, Senin (9/10).

Menurut Imdad, setidaknya ada tiga indikator yang disematkan oleh kelompok Islam transnasional untuk mengklaim praktik Islam yang paripurna (kaffah).

Pertama, Islam kaffah adalah Islam yang puritan, bebas dari takhayul, bid’ah, dan khurufat, bersih dari tasawuf, tafsir, filsafat, dan ide-ide dari Barat. Islam tipe ini adalah model Islam yang tertutup terhadap pihak lain di luar Islam.

“Sehingga tidak merasa perlu terlibat, berinteraksi, dan berdialog dengan yang lain, kecuali dalam posisi mendominasi,” kata Imdad saat memberikan sambutan.

Kedua, Islam kaffah adalah yang menerapkan syariat Islam di segala sektor kehidupan. Mulai sosial, budaya, hingga politik dan hukum formal. Penerapan hukum Islam adalah dengan menerapkan syariat Islam.

Menurut Imdad, dengan formalisasi syariat Islam berarti melakukan penyempitan Islam itu sendiri.

Ketiga, Islam kaffah adalah Islam politik. Imdad menilai, kelompok Islam transnasional selalu mengkampanyekan bahwa praktik Islam yang kaffah adalah dengan melakukan Islam politik. Islam harus menjadi ideologi politik untuk mendirikan negara Islam.

Alumnus Pascasarjana Universitas Indonesia itu menyangkal model Islam kaffah versi tersebut. Baginya, Islam Indonesia adalah model Islam yang paripurna (kaffah) untuk bangsa Indonesia sendiri.

“Islam Indonesia adalah Islam yang membumi, berdialog positif dengan konteks Indonesia,” jelasnya.

Bahkan, Imdad menilai, dunia internasional semakin memperhatikan dan memandang Islam Indonesia sebagai model Islam masa depan di tengah konflik di Timur Tengah yang tak kunjung usai.

Ia berpandangan bahwa Islam kaffah yang didengungkan oleh kelompok Islam transnasional adalah Islam yang berdasar terhadap budaya lokal di Arab atau Negara Timur Tengah lainnya. Seperti Ikhwanul Muslim yang merupakan ekspresi politik lokal Mesir dan Timur Tengah.

“Islam kaffah adalah Islam lokal pula,” ucapnya. (Muchlishon Rochmat)

Sumber : NU Online