Home | Islam Kita | Kisah Ulama | Ajengan Ilyas dan Rapat Akbar “Dua Juta” Nahdliyyin

Ajengan Ilyas dan Rapat Akbar “Dua Juta” Nahdliyyin

2 Maret 1992. Lapangan Parkir Timur Senayan, Jakarta, siap menampung 2 juta nahdliyyin. Tentu saja aparat pemerintah dibuat heboh dengan kegiatan yang dihelat oleh PBNU di bawah duet Kiai Ilyas dan Gus Dur itu. Betul, secara khusus gagasan ini dilontarkan oleh Gus Dur. Jumlah dua juta orang akan memecahkan rekor pengumpulan massa dalam sejarah Indonesia. Apa tujuannya? Selain memperingati Harlah NU, juga untuk menyatakan “Kesetiaan kepada NKRI, Pancasila dan UUD 1945”. Inilah yang -sekali lagi- menunjukkan waskitanya Gus Dur. Kalau saja pemerintah saat itu sudah bisa menerawang masa depan, seperti situasi hari-hari ini, Rapat Akbar itu tentu akan didukung, bukannya dihalang-halangi.

Aparat negara berjibaku menghalangi aliran massa dari berbagai daerah, terutama Jawa. Pada akhirnya yang datang hanya sekitar 500.000. Soal jumlah massa besar di satu lokasi, tidak mudah dihitung karena tidak pakai karcis. Bahkan di masa sekarang yang sudah ada drone pun, soal jumlah ini selalu kontroversial. Tapi bagi nahdliyin yang ikut hadir di Senayan waktu itu, jumlahnya tetap 2 juta, karena sejumlah Kiai Sakti membawa tasbih yang setiap butirnya “mengandung” seratus jin. Dan jika setiap jamaah yang berjumlah 500.000 ribu itu diikuti 4 khodam, maka jumlahnya akan genap 2 juta.

Di awal 90-an, ide Gus Dur ini jadi topik heboh nasional. Pancasila & UUD 1945 baik-baik saja kok, masih menjadi bahan indoktrinasi melalui P4. BP-7 juga masih mapan, dan Gus Dur salah seorang manggala di dalamnya. Tapi itulah, Gus Dur sudah melihat tanda-tanda membahayakan bagi masa depan Indonesia. Oleh sebab itu, perlu satu pernyataan tegas bahwa warga nahdliyyin mengikrarkan kesetiaan pada NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Waktu itu belum muncul istilah 4 pilar.

Inilah perhelatan besar PBNU setelah usai melaksanakan Munas Lampung yang dramatis itu. Dan di even ini pula Pejabat Pelaksana Rais Aam KH Moh Ilyas Ruhiat akan menyampaikan sambutan untuk pertama kalinya kepada warga nahdliyyin.

Ikrar kesetiaan dibacakan oleh KH. Buchori Masruri, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah. Lantunan Ayat Suci dibacakan oleh H. Muammar ZA. Salawat Nabi dikumandangkan bersama para jamaah dipimpin oleh Muchsin Alatas. Lalu tampil KH. Fuad Hasyim dari Cirebon. Pembacaan puisi dari Rendra. Setiawan Djodi juga ikut memberikan sambutan dan menyatakan kegembiraannya karena proyek Kantata Takwa bisa berjalan berkat dukungan Gus Dur. Acara kolosal ini berjalan lancar berkat kegigihan Ketua Panitia H Abu Hasan yang saat itu menjabat sebagai Ketua Mabarrot PBNU.

Tibalah saatnya Pelaksana Rais Aam memberikan sambutan. Tidak ada ledakan kata-kata. Beliau tetap bertutur lembut, sama seperti sedang memberikan pengajian kitab Ihya Ulumuddin yang dikampunya di Cipasung. Menyampaikan nasehat bagi puluhan santri dan ratusan ribu massa, rupanya sama saja bagi beliau. Sosok yang tak lagi terpukau oleh massa. Tak heran jika Ajengan Cipasung ini disebut Kitab Ihya berjalan.

Mungkin banyak yang kecewa dengan cara dan gaya beliau berpidato. Tapi dengan itulah tensi politik menjadi lebih adem. Dengan berbagai kesulitan, hubungan PBNU dan pemerintan tetap menemukan titik temu sehingga sejumlah program unggulan tetap dapat berjalan.

25 tahun berselang, benarlah, Pancasila dan UUD 1945, NKRI, dan Kebinekaan kita, terancam secara serius oleh ideologi lain. Dan hari-hari ini, ulama-ulama NU lagi-lagi katempuhan buntut maung, sibuk menjadi pemadam kebakaran, akibat kelalaian penguasa membiarkan kelompok radikal tumbuh dan berkembang pesat.

Maka sudah selayaknya kita memberikan respek dan rasa hormat kepada para penyelenggara Rapat Akbar 1992 itu. Beliau-beliau sudah mengingatkan, kita yang seharusnya kini, menjaga dan meneruskan. Semoga menjadi amal baik bagi mereka dan cipratan barokahnya menerpa kita. Al-Fatihah

(Iip Yahya)

Sumber : PW Ansor Jabar Online